www.virgo96.co.vu


Senin, 07 November 2011

INGAPORE Tolak Perjanjian Ekstradisi. Menyangkut Dana Miliaran Dolar Orang Indonesia

Singapura dan Myanmar Tolak Perjanjian Ekstradisi
Senin, 07 November 2011 | 06:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: --Upaya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menjejaki kerjasama ekstradisi dengan seluruh anggota negara ASEAN kandas. Dua negara anggota yakni Singapura dan Myanmar menolak membuat perjanjian.

"Mereka sepertinya enggan. Mengenai alasan mereka pun sangat tertutup," kata Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin saat dihubungi melalui telepon selulernya, Ahad 6 November.

Amir baru saja mengikuti konferensi yang dihadiri menteri hukum se-ASEAN di Pnom Penh, Kamboja, 4 sampai 5 November lalu. Dalam pertemuan itu, Amir mengusulkan agar negara anggota ASEAN bisa membuat perjanjian ekstradisi. Tujuannya untuk memudahkan para buronan kasus dipulangkan ke negaranya untuk menjalani hukuman.

Namun sesuai aturan, seluruh negara anggota harus menyetujui usulan tersebut untuk mewujudkan dalam sebuah perjanjian kerjasama. Singapura dan Myanmar menjadi batu sandungan.

Informasi yang diperoleh Tempo dalam pertemuan itu menyebutkan, otoritas Singapura maupun Myanmar menolak lantaran tak ingin direpotkan bila membuka peluang ekstradisi. "Kedua negara itu memiliki kepentingan serius di situ," kata salah seorang sumber yang ikut dalam pertemuan tersebut.

Kepentingan yang dimaksud, kata sumber, karena kebijakan ekstradisi bisa membuka data-data yang bisa mengarah pada dugaan pencucian uang dari para koruptor ke negaranya. "Tentu masalah ini membuat mereka dilematis."

Selama ini Singapura selalu menjadi tempat pelarian para koruptor, seperti halnya M Nazaruddin, tersangka kasus suap wisma atlet, Nunun Nurbaeti, tersangka cek pelawat anggota DPR, serta Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq, terpidana kasus Bank Century. Mereka sulit ditangkap lantaran penegak hukum Indonesia tidak memiliki kewenangan untuk memasuki wilayah tersebut.

Amir yang dimintai konfirmasi mengenai pernyataan sumber menolak berkomentar. Ia hanya mengatakan bahwa instansinya akan terus melakukan upaya agar terwujud kerjasama, walaupun tak melalui jalur ekstradisi."Cara alternatif dengan meningkatkan hubungan bilateral," kata dia.

Bekas pengacara politikus Golkar Akbar Tanjung itu mengatakan wujud dari hubungan bilateral itu misalnya, pembicaraan antar pemerintah dengan Malaysia. Kedua negara ini menjejaki kerjasama nonkonsensus negara ASEAN dalam memulangkan tenaga kerja yang tersangkut persoalan hukum serta memulangkan para nelayan yang tertangkap mencari ikan ke wilayah Indonesia dan sebaliknya.

"Meskipun belum bersifat resmi, tapi pembicaraan dengan Malaysia dalam hubungan bilateral terbuka," kata dia. "Saya optimis upaya ini akan lebih baik karena ekstradisi memerlukan waktu."
http://www.tempointeraktif.com/hg/hu...365173,id.html

60 Persen Perputaran Uang di Singapura Berasal dari Indonesia
Jumat, 30 September 2011 | 17:34:06

MEDAN (EKSPOSnews):Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Sumatera Utara menegaskan 60 persen perputaran uang di Singapura berasal dari Indonesia, sehingga negara kecil itu memiliki pendapatan yang luar biasa.

"Banyak pengusaha-pengusaha kaya dari Indonesia memilih tinggal di Singapura, sedangkan bisnisnya ada di Indonesia. Dengan demikian perputaran uang di Singapura 60 persen berasal dari Indonesia," ujarnya dalam pertemuan dengan Delegasi Negara Bagian Melaka di Medan, Jumat 30 September 2011.

Dia mencontohkan warga Indonesia yang kaya pembeli properti nomor tiga di Singapura termasuk membeli properti di Malaysia. "Saya sendiri memilik properti di Malaysia. Sedangkan pengusaha Indonesia rata-rata memiliki properti di Singapura."

Dia menegaskan kalau tidak ada pengusaha Indonesia yang beli properti di Singapura dan Malaysia negara jiran itu belum tentu semaju saat ini. Jadi, lanjutnya, wajar jika kedua negara jiran itu menjalin hubungan bisnis dengan Indonesia khususnya Sumatera Utara.
http://eksposnews.com/view/5/26950/6...Indonesia.html


Bank Singapura Incar Orang Kaya Indonesia,
di Singapore Kini Dana Orang Indonesia Capai US$ 120 miliar

Kamis, 5 Mei 2011 23:55 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Pascadiberlakukannya pembekuan sementara penerimaan nasabah baru layanan wealth management di 23 bank, terlihat pergerakan bank negeri tetangga seperti Singapura untuk menampung nasabah kaya.

"Bank-bank asal Singapura menjadi agresif datang ke nasabah seiring moratorium wealth management. Mereka jemput bola menampung nasabah kaya raya dengan getok tular," ujar pengamat ekonomi Dradjad Wibowo, Kamis (5/5).

Menurutnya, kelas menengah dan kaya raya di Indonesia kini berjumlah 10 juta orang. Jumlah itu lebih banyak daripada orang kaya di Singapura. Ia mengestimasi jumlah uang orang Indonesia di Singapura kini mencapai US$120 miliar. "Info naiknya bursa dan indeks membuat sebagian melirik kembali ke Indonesia. Tapi jika penghentian nasabah baru wealth management diteruskan, maka akan semakin banyak uang kita di sana," ujarnya.

Ia pun mengusulkan supaya wealth management tidak dihilangkan karena akan berakibat buruk pada perekonomian Indonesia. "Yang diperlukan sekarang adalah perbaikan prosedur, kontrol internal, serta pemanfaatan teknologi pada layanan ini," cetusnya.
http://metrotvnews.com/read/news/201...aya-Indonesia/

Koruptor Banjiri Devisa ke Singapura. Jakarta Sumber Uang Utamanya
Kamis, 7 Jul 2011 11:36 WIB

JAKARTA-Kalau kita menyebut TKI sebagai pahlawan devisa bagi bangsa Indonesia, maka para koruptor yang pergi ke Singapura layak kita sebut sebagai ‘pahlawan devisa’ bagi Singapura. Negara berwilayah kecil berlambang patung ‘Singa Merlion' itu pun jadi surga bagi koruptor yang kabur dari Indonesia. Aset yang dibawa kabur ke Singapura ribuan triliun rupiah.

“Para koruptor atau maling negara menjarah uang dari Indonesia untuk kemudian disimpan di Singapura. Para penyamun yang kabur dari Indonesia itu menjadi pahlawan devisa bagi Singapura, negara kecil yang tidak memiliki sumber daya alam,” kata politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), AP Batubara kepada jakartapress.com, Selasa (5/7/2011).

AP, panggilan akrab AP Batubara mengamati, Singapura berharap uang yang dilarikan dari Indonesia bisa menjadi pemasukan devisa. “Maka tak heran jika para koruptor, bandit, maling uang negara, penyamun, perampok dan pengusaha hitam terutama WNI keturunan China , menyimpan uang jarahan dari Indonesia ke Singapura sehingga negara itu kaya,” ungkap Anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP ini.

“Singapura itu urusannya uang, tak punya sumberdaya alam. Jadi, modalnya Singapura itu hanya pelabuhannya sangat besar, meski luas negaranya sangat kecil,” tandas AP sembari menambahkan, penasihat militer dan pertahanan Singapura adalah orang Israel.

Menurut AP, para pejabat kita ini mengenyangkan perutnya sendiri, sementara rakyat Indonesia melarat. Kelakuan para pejabat bisanya cuma mengekspor bahan baku dan cari fee dari pihak Singapura. Ini masalah mental dan moral pejabat kita yang brengsek. “Para pejabat kita ini kongkalikong dengan Singapura,” bebernya.

Ia mengakui, tidak ada korupsi di jajaran Pemerintah Singapura, tapi anehnya kalau uang hasil korupsi masuk dari negara lain ke Singapura, dibiarkan saja. “Yang penting devisa bisa masuk negara tersebut. Jadi, duit haram atau uang kotor yang dibawa para maling itu masuk ke Singapura. Para pencoleng itu menyimpang uang korupsi di Singapura,” imbuhnya.

Pemerintah SBY dulu sudah tandatangan perjanjian dengan Singapura, kerjasama pertahanan (defence cooperation agreement, DCA) dan kerangka pengaturan tentang daerah latihan militer bersama (military training area, MTA). Namun, perjanjian ini ditolak oleh DPR karena dinilai lebih banyak menguntungkan Singapura.

Diungkapkan, Singapura dikenal sebagai negara pelindung koruptor, tapi SBY tidak pernah secara tegas menekan negara kecil tersebut agar tidak melindungi koruptor Indonesia. Menurutnya, pemerintah harusnya berani menempuh cara-cara keras agar Singapura takut.

Di era SBY, lanjutnya, banyak industri dan usaha yang bangkrut. “Bandung yang dulu tempatnya industri tekstil, sekarang bangkrut semua. Kehancuran bangsa ini hasil dari kekuasaan pemerintahan SBY. Utang luar negeri bayar terus setiap tahun dengan memakai sekitar 30 persen dana APBN. Uang APBN disisihkan untuk dibuat cicilan utang plus bunganya. Waktu Presiden Megawati dulu menyetop semua utang luar negeri dan IMF pun setuju. Tapi begitu SBY naik, dilakukan utang lagi,” ungkap AP.



Sumber : 

by Facebook Comment

Artikel Terkait



0 komentar :

Posting Komentar

 

|Copyright 2010 - 2011|
Designed by Rahmad adi putra
Jalan utama Peputra indah 1 Simpang Tiga Pekanbaru, Riau Indonesia